Anda perempuan/wanita/cewek/kromosom XX?
Anda punya “gang”/teman rumpi/kumpulan arisan?
Bila jawaban anda “Ya” kemungkinan besar anda akan suka pada Sex and The City (SATC), baik seri TVnya (tayang 1998-2004) atau film bioskopnya (rilis tahun 2008), karena kemungkinan besar kita bisa relate pada kisah yang ditampilkan.
Bagi anda yang jengah dengan kata “Sex” bisa diabaikan, karena inti cerita SATC bukan itu. Sex memang merupakan bagian dari kisah mereka, akan tetapi, SATC sebetulnya merupakan cerita tentang persahabatan sejati.
Cerita SATC merupakan kisah Carrie Bradshaw, seorang penulis lepas yang merupakan kontributor tetap pada sebuah koran. Ketika kisah Carrie dibuka pada tahun 1998, Carrie merupakan salah satu dari ribuan “wanita pencari cinta” di kota New York dan kolom yang ditulis Carrie adalah episode-episode dari pencarian akan cinta sejati, the one true love, her soulmate.
Carrie tidak sendirian. Dia ditemani oleh tiga sahabat wanita pencari cinta: Miranda Hobbs, Charlotte York dan Samantha Jones. Keempat ini memiliki karakter yang berbeda-beda dan hal tersebut membuat cerita SATC berkembang.
Saya sangat suka pada SATC, karena memang saya bisa relate ke cerita-cerita pertemanan mereka yang didasari pada satu keinginan: mencari kebahagiaan di usia lebih dari 30. Perjalanan mereka cukup berliku, penuh dengan kerikil-kerikil. Mereka saling curhat setidaknya sekali seminggu, ngumpul-ngumpul. Pada dasarnya, apa yang mereka alami, juga dialami oleh wanita lain di seluruh dunia. Cuma ya karena kebudayaan Amerika, maka cerita-cerita mereka soal sex ngga nyambung dengan budaya Indonesia (khususnya saya).
Seri TV SATC berakhir pada tahun 2004 dengan happy ending. Charlotte mengadopsi anak setelah menerima kenyataan bahwa dirinya kurang subur, Miranda pindah ke Brooklyn dan hidup dengan suami dan anaknya, Samantha si petualang cinta juga kena batunya, mencoba hidup dengan pacar brondongnya.
Dan bagaimana Carrie? Setelah hampir menikah dengan 1 pria dan sempat pindah ke Paris untuk pria yang lain, dia menemukan cinta sejati di Mr. Big, yang selama 6 tahun putus-sambung-putus-sambung.
Fast Forward ke tahun 2008. Dengan penuh kehebohan, SATC muncul kembali, kali ini di layar lebar. Fokus cerita? Tetap Carrie Bradshaw dong ya. Pada dasarnya, filmnya sama dengan seri nya, hanya saja, semua lebih dramatis. Lebih glamorous, dengan segala barang branded yang bikin ngiler.
Heh, iya, satu hal lagi. Cewek-cewek SATC adalah penggemar barang branded. Bahkan Carrie menyatakan dalam pembukaan film SATC: “Women go to New York for the two L’s: Labels and Love”. Cuma sekali lagi, kalau tidak familiar dengan segala international brands (Manolo, Hermes dll) tidak apa-apa. Atau jangan jadikan obrolan barang branded sebagai hal yang menyebabkan SATC tidak menyenangkan karena pusat cerita bukan di situ.
So, film SATC adalah sebuah film reunion menyenangkan. Semua elemen seri TV hadir lengkap, dalam skala besar. Tapi bagi saya, yang perempuan dan seusia Carrie dkk., SATC menyenangkan karena inti cerita belum berubah: persahabatan. The men in your life may (and will) hurt you, but friends are forever!!!